Tampilkan postingan dengan label Melahirkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melahirkan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2016

Review : Essential for Newborn

Holla..

Ketika memasuki usia kehamilan 6 bulan (harusnya 7 bulan ya), saya dan suami sudah mulai mencicil keperluan bayi. Banyak sekali barang-barang yang sebetulnya hanya sekedar lucu tetapi bukan yang essential yang benar-benar diperlukan. Maka dari itu, saya akan review barang-barang yang benar-benar saya anggap penting dan perlu untuk bayi baru lahir.

Keperluan Tidur
1. Baby Crib
Buat saya dan suami yang tinggal di rumah mungil, kami memutuskan untuk tidak membeli baby crib. Pertimbangannya karena baby crib akan memakan tempat dan tidak akan terpakai lama. Saya dan suami memutuskan untuk menidurkannya di tengah-tengah kami. Ketika awal lahir, kami menggunakan kasur kecil merk Elegance yang kami beli di Fany Babyshop seharga Rp. 500.000,-
Cara ini bisa menghemat budget pengeluaran keperluan bayi (budget crib nya dan budget untuk baby bedding + bumpernya)

2. Bantal dan Guling 
Saya membeli merk Elegance, yang isinya bantal dan guling 2. Saya lupa harganya. Yang jelas beli di Mae Bebe Bintaro. Saya juga membeli guling boneka (2 buah) dan juga bantal peyang. Guling boneka nya belum terpakai hingga hari ini. Bantal yang paketan dipakai buat dijadikan dudukan high chair supaya lebih empuk. Bantal peyang hanya dipakai sekitar 2 bulan. Saat ini, Aira menggunakan bantal dewasa. Pertimbangannya : ketika Aira sakit, saya diajarkan oleh DSA untuk menidurkan Aira menggunakan bantal dewasa dengan meletakkan Aira di bantal hingga dibawah bahu, hal ini untuk menghindari gumoh. Guling hanya dipakai sesekali.
 
3. Selimut
Sebenarnya cukup lho jika hanya memiliki 2 selimut. Beli yang carter's double fleece yang harganya affordable juga sudah cukup. Saya sempat membeli bedcover bayi (yang akhirnya jarang dipakai. Dipakai sesekali ketika menidurkan Aira dipangkuan saya ketika bepergian dengan mobil). Banyak juga yang menghadiahkan selimut untuk kami. Makanya saya katakan untuk membeli selimut hanya 2 buah. Jika bepergian, minimal sediakan 1 buah selimut topi. 

4. Bedong
Bedong termasuk perlengkapan tidur ga ya?
Anyway.. Jika sedang membuat list keperluan bayi, menurut saya cukup lho jika hanya membeli bedong sekitar 1 lusin. Kalo saya pribadi, bedong ini digunakan sebagai selimut tipis dan juga alas mandi (diatas perlak). Saya hanya memiliki 1 set (isi 4) bedong carters yang ukuran besar (76x100 cm) dan bedong (ga tau merk nya, tapi bahannya lebih bagus dibanding carters) sebanyak 6 buah.

5. Kelambu
Kelambu yang saya beli adalah kelambu jenis tudung saji.

Bath & Grooming
1. Bak Mandi & Gayung
Saya memilih bak mandi Puku yang besar. Supaya bisa terpakai hingga Aira besar. Kakak saya menggunakan bak mandi Puku hingga saat ini (anaknya berusia 6,5 tahun). Awet banget. 

2. Perlak
Saya memiliki 3 perlak. 1 perlak besar untuk mandi, 1 perlak kecil untuk mengganti popok, dan 1 perlak untuk bepergian (yang saya dapatkan ketika membeli diaper bag).

3. Grooming Set
Saya membeli tomee tippee grooming set. Selain jatuhnya lebih hemat, kit ini juga lebih praktis dan rapi ketika dibawa bepergian. Di dalamnya sudah berisi sisir (2 jenis), gunting kuku, gunting, oral thermometer, sikat gigi, aspirator.

4. Toiletries
Keinginan saya membeli sebamed yang memang lebih bagus dan lebih natural untuk kulit bayi. Namun saya membeli Zwitsal. Pertimbangannya selama kulit bayi tidak bermasalah, kenapa harus menggunakan yang mahal *emak-emak irit*. Toiletries ini kan akan dipakai berkelanjutan. Jadi akan lebih menghemat pengeluaran bulanan kami. Alhamdulillah kulit Aira tidak terlalu bermasalah, jadi sampai saat ini masih aman pakai Zwitsal.
Berikut toiletries yang rutin digunakan Aira ketika mandi :
- Zwitsal baby bath classic
- Zwitsal Baby shampoo kemiri
- Zwitsal Hair Lotion
- Bebe Roosie (lebih praktis. Tidak terlalu berminyak, lebih lembut dan anti nyamuk)
- Pigeon bedak padat (pakai yang impor Jepang). Aira tidak menggunakan bedak tabur.
- Pigeon baby cologne

Beberapa cream ini digunakan ketika kulit sedang bermasalah :
- Sebamed Diaper Rash Cream
- Sebamed Care Cream

5. Handuk
- Handuk mandi : saya sediakan 2 buah. Handuk Kawamoto. Tipis, lembut dan menyerap air dengan baik.
- Handuk kecil : saya sediakan 1 lusin. Biasanya saya pakai ketika bepergian atau di rumah. Sebisa mungkin mengurangi tisue, karena untuk beberapa bayi tisu ini bisa menyebabkan alergi.

6. Tisue dan Kapas
- Tisu kering saya gunakan Paseo Baby Tissue (baru ada ketika Aira memasuki usia 5 bulan). Tentunya tisue ini lebih halus.
- Kapas bulat : saya gunakan merk Medisoft. Lebih halus dan tidak meninggalkan serbuk kapas.

Baju
1. Baju Rumah
Bayi baru lahir lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur. Saya memilih untuk memberikan bahan yang halus dan tidak panas.
- jumper kutung : 1 set (isi 5)
- jumper lengan pendek : 1 set (isi 5)
- sleepsuit : 1 set (isi 3)
- setelan lengan pendek + celana pop : 3
- setelan lengan panjang + celana panjang : 3
- celana pop : 3
- celana panjang : 3
Untuk bayi yang jarang gumoh dan tidak lagi musim hujan dan ada yang membantu mencuci+setrika, cukup lho jika hanya menyediakan baju seperti list diatas, bahkan ini sudah termasuk banyak.

2. Baju Pergi
Buat saya yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibanding bepergian, saya hanya membeli 1 pasang baju untuk pergi (dress) dan 4 buah legging cotton rich (murah meriah). Legging ini bisa dikombinasikan dengan jumper. Ternyata benar saja.. banyak yang menghadiahkan baju pergi. Lumayan menghemat kan.

3. Mitten & Bootie
Cukup beli 6 pcs. Dipakai ketika di rumah dan hanya 1 bulan. Lagi pula, saat ini sudah tidak disarankan untuk terlalu lama menggunakan sarung tangan karena bisa menghambat motorik bayi.

4. Topi
Topi dari bahan katun tentunya akan membuat anak lebih nyaman. Sediakan 2 buah saja.

6. Kaos kaki
Saya membeli petite mini isi 7. Itu cukup banget lho. Bahkan bisa digunakan untuk pergi sebagai pengganti prewalker shoes untuk newborn karena bentuknya yang lucu-lucu.

7. Slabber
Saya membeli slaber sebanyak 3 buah. Slabber carters yang sudah 1 set dengan mitten bootie. Lagi-lagi lebih hemat. Lalu kami dihadiahi slabber set mothercare. Jadi saat lahir Aira memiliki 6 buah slabber. Ketika memasuki masa mpasi, saya membeli slabber yang bagian belakangnya ternuat dari plastik.

Keperluan Menyusui 
1. Dot
Walaupun konselor laktasi dan WHO meng"haram"kan penggunaan dot, namun saya tetap menggunakannya. Alhamdulillah tidak bingung puting.
Saya menyediakan beberapa merk.
- Tommee Tippee
- Pigeon
- Medela Calma
- dr. Browns
Favorit Aira adalah dr.Brown. Selain karena dotnya lembut, dr.Browns juga memiliki ventilator untuk mencegah angin masuk terlalu banyak ketika dihisap Aira. Jadi yang masuk hanya susu.

2. Medela Purelan
Saya sediakan medela purelan ini dari sebelum melahirkan. Ternyata berguna sekali ketika puting saya luka di awal-awal menyusui.

3. Feeder Cup
Di awal menyusui, Aira tidak bisa menyusui dengan baik. 3 minggu pertama, saya menjadi ibu e-ping (exclusive pumping). Namun ketika diberikan ASIP melalui feeder cup, ternyata Aira menjadi rewel. Maka dari itu, feedercup ini dipensiunkan

4. Breast pump
Breastpump saya beli pada saat persiapan sebelum melahirkan. Breastpump pertama saya adalah Medela Swing. Alhamdulillah cocok dan saya menjadi relax ketika memompa asi. Saya tidak bisa memompa manual menggunakan tangan. Ketika masuk kantor, saya upgrade breastpump saya menjadi Swing Maxi dan saya juga membeli Medela Harmony (agar lebih praktis ketika memompa tanpa ada aliran listrik).

Keperluan Ibu
1. Pembalut bersalin
Saya tidak khusus membeli pembalut bersalin. Saya hanya menggunakan Charm Night yang 35 cm. Mudah didapatkan dan saya cocok menggunakan pembalut jenis ini. Ketika di RS, saya menggunakan Softex yang kemasannya ungu. Pembalut ini juga enak digunakan. Jadi, ketika saya sedang ke RS, saya membeli pembalut ini.

2. Baju kancing depan
Setelah habis melahirkan, daster kancing depan menjadi pakaian favorite saya. Praktis.

3. Korset
Ketika persiapan melahirkan, saya sediakan 3 jenis korset, yaitu korset velcro, gurita dan stagen tradisional. Dari ketiganya saya hanya menggunakan korset velcro karena lebih praktis. Saya memiliki 2 korset, sehingga bisa digunakan bergantian ketika salah satunya dicuci.

4. BRA Menyusui
Karena saya berniat memberikan ASI, saya sudah siapkan BRA menyusui ketika akan melahirkan. Memilih BRA tentunya harus disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing. Saya sendiri memilih BRA menyusui dari bahan katun dan tidak berkawat.

BABY GEAR
Beberapa baby gear sudah saya siapkan ketika persiapan melahirkan.
1. Stroller : terpakai sejak newborn
Saya membeli stroller sekitar 2 minggu sesudah melahirkan. 

2. Car Seat : baru terpakai usia 5 bulan
Idealnya, stroller ini digunakan sejak newborn, namun karena suami saya tidak tega membiarkan anaknya di carseat, akhirnya Aira lebih banyak saya pangku. Ini lebih memudahkan saya juga ketika ia ingin "nenen" dengan saya. 

3. Gendongan :
- gendongan sling : saya membeli gendongan elegance, digunakan sejak usia 1 bulan.
- gendongan jarik : totally tidak bisa saya gunakan karena tidak bisa menggunakannya.
- gendongan dengan hipseat : saya membeli i-angel, digunakan ketika usia 7 bulan (karena baru membeli gendongan ini ketika usia Aira 7 bulan)

DIAPER
Saya tipikal orang yang ingin praktis. Oleh sebab itu, saya memakaikan disposible diaper untuk Aira. Diaper pertama yang saya beli adalah Merries (putih) NewBorn. Permukaannya lembut, tipis dan tidak mudah bocor. Biasanya Aira digantikan diapeernya setiap 4-5 jam sekali.
Dari sekian banyak diaper yang saya coba, berikut merk Diaper yang menjadi favorite saya :
1. Nepia
2. Merries putih. Kadang saya juga menggunakan Merries yang hijau untuk pemakaian sehari-hari di rumah
3. Goo.N Slim pants
4. Pampers. Favorit saya Pampers Premium.

Saya juga sempat lama menggunakan MamyPoko Extra Dry (hampir 8 bulan) untuk sehari-hari, sayangnya terakhir-terakhir Aira sempat mengalami ruam popok.
Kembali lagi ya.. Diaper ini cocok-cocokan untuk kulit bayi kita.

DIAPER BAG
Saya memiliki 2 buah tas yang biasa digunakan :
1. Okiedog freckles :
Berhubung diaperbag ini besar, biasanya saya menggunakannya ketika bepergian keluar kota atau bepergian dalam kota untuk waktu yang agak lama. Tas ini juga menjadi tas yang saya bawa ke RS untuk menyimpan keperluan bayi ketika melahirkan.
2. Skiphop Zoo - Butterfly
Untuk ke mall, biasanya saya menggunakan tas ini. Lebih praktis, simple dan kecil.

Semoga membantu ya..

Love,
Vicka

Senin, 12 Oktober 2015

Cerita Melahirkan


Setelah 3 bulan cuti melahirkan.. Hari ini saya kembali ke kantor tercinta.. Mumpung kerjaan belum masuk ke meja.. Mari kita ngeblog dulu..

Dimulai dengan cerita melahirkan dari emak-emak yang sekarang naik kereta.. “reward to myself.. berhasil naik commuterline”

Jadi ya.. cerita berawal dari tanggal..

1 Juli 2015.. 
Mulai dari awal Juli, saya sudah kontrol si dedek janin setiap seminggu sekali..
Si emak-emak perut gendut ini sudah mulei nanya-nanya tentang ILA sama dokter..
VC :  “Dok, saya mau normal ya.. Pengennya pake ILA, supaya painless”..
dr.YR “iya, tapi ada syaratnya lho. Ga bisa gitu aja. ILA baru disuntikkan setelah bukaan 5”..
VC : “iya dok. Trus perlu cek darah lagi ga?”
dr. YR : “minggu depan cek darahnya ya, sekalian kita bicarakan birthplan. Kan minggu depan masuk 36 minggu. Bayi km besar. Jadi saya harus ancang-ancang dari sekarang. Bagusnya seh minggu-minggu depan lahiran”
VC : “ko minggu depan dok? Kan harusnya 40 minggu?” (bengong antara siap dan ga siap untuk menghadapi lahiran)
Dr. YR : “iya.. tapi nanti klo bayinya makin besar, makin susah lho lahirannya. Mau normal kan?”
VC : “iya dok” (Pasrah)

Minggu depannya.. 

7 Juli 2015
VC : “hallo dok..”
dr. YR : “hai.. bagus semua.. dede nya udah 3,5 kg neh Vick..”
VC : “gede banget dok.. jadi gmn?”
dr. YR : “semoga kamu ada mules ya minggu ini. Biar ga makin gede. Masih mau normal kan? Ini lagi kontraksi neh. CTG dulu deh. Saya mau lihat kondisi nya. Sekalian ambil darah ya.. Minggu depan kita bicarakan birthplan”
VC : “.................” (Makin deg-deg an deket-deket waktu lahiran)

Setelah ambil darah dan hasil CTG bagus.. Akhirnya bisa pulang.. Soalnya tumben banget hari itu antrinya lamaaaaaa bangeeeet.. Antri dokter lama, antri bayar dan obat pun lama.. Pas lagi siap-siap bobo di mobil, sementara suami nyetir.. Tiba-tiba di telp dari RS “Bu, besok diminta dokter Yusfa balik ke RS lagi ya.. Soalnya Hb ibu rendah”


Pertama kali CTG, malem-malem pulang kantor..


Besoknyaaaa... 

8 Juli 2015

Masuk ke poli lagi dan ketemu dr. YR lagi..
dr. YR : “Ko ga langsung masuk?”
VC : “Kirain harus antri dok”
Setelah USG perut lagi..
dr. YR : “dede nya masih 3,5 kg. Plasenta bagus dan ketuban juga masih banyak”
Masih tiduran di tempat tidur periksa..
dr. YR : “hasil CTG kemarin juga bagus. Tapi Hb nya rendah neh vick. Ada 2 kemungkinan : transfusi darah atau infus zat besi”
VC : bengong dulu.. antara kaget dan bingung karena harus transfusi darah “infus zat besi aja ya dok”
dr. YR : “Ini perut kamu juga lagi kontraksi neh. CTG lagi ya. Saya mau cek kondisi bayi nya. Saya cek dalem dulu”
VC : muka panik langsung stress.. ditambah teriak-teriakan di poli.. *pasien lebay*
dr. YR : “bukaan 1 sempit, kepala bayi udah dibawah. Kita lihat hasil CTG nya ya. Baru saya tau harus kasih tindakan apa”
Si emak hamil langsung bingung.. “what? Bukaan 1? Berarti udah mau lahiran donk?!?”

Keluar dari poli langsung di CTG ama susternya.. 


Abis CTG, niatnya mau ke kantor

Selesai CTG, langsung masuk ke Ruangan dokter lagi..

Muka dokternya berubah.. Si emak-emak hamil bingung..

dr. YR : “ini.. gerakan janin nya udah kurang baik.. kontraksi udah 10 menit 3 kali.. maaf ya, saya harus intervensi medis dengan terapi oksigen. Kalo sudah terapi oksigen, janin nya masih lemah pergerakannya, mau ga mau jam 2 siang ini harus operasi”

Saya dan suami bingung.. Speechless.. Tadi suruh transfusi atau infus oksigen.. kenapa sekarang malah harus operasi?
Suami nanya “Masalah Hb rendahnya gimana, dok?”
dr.YR : “harus transfusi darah. Cuma itu satu-satu nya cara paling cepat untuk menaikkan Hb”
FYI.. Hb saya waktu itu di angka 8, padahal normal nya 12..
Berarti hari itu saya sudah masuk fase observasi persiapan persalinan..

Keluar poli, saya langsung dianter suster ke ruang bersalin Kala 1. Dilanjutkan dengan CTG.

Setelah terapi oksigen.. alhamdulillah, janin nya aktif bergerak lagi. Tapi saya tetap tidak boleh pulang karena hari itu juga saya akan transfusi darah.. Dokter meminta suster untuk menyiapkan 700 cc darah.. Namun sore itu hanya tersedia 1 kantung darah sekitar 200 cc.. Saya dan suami deg-deg an lagi.. Berharap kantung berikutnya segera didapatkan.. Maklum, saat itu sedang bulan puasa.. Yang donor sedikit, tapi kebutuhan darah diluar sana tetap banyak.. Transfusi dimulai jam 5 sore di Ruang Kala 1.. Untung nya saat itu ga ada emak-emak hamil lain yang teriak-teriakan kontraksi nunggu bukaan.. Jadi saya bisa dengan tenang transfusi darahnya..
Oh iya.. setiap 4 jam sekali saya CTG dan “cek bukaan”..
Untuk masalah cek bukaan, saya ga mau sering-sering.. Sampe bidan-bidan disana lapor ke dokter Yusfa bahwa si pasien ini ga mau cek bukaan.. Untung nya dokternya baik.. Jadi saya ga cek bukaan terus-terusan.. Menurut saya, saya ga ngerasain sakit kontraksi.. Jadi logika nya, bukaan ga akan nambah.. 

 Transfusi dara pertama di Ruang Kala 1

Pak suami sok sok an romantis.. Nyium tangan istrinya..
Ga malu sama brewok boss? (belum sempet cukur jenggot)

Jam 20.30

Petugas lab ke kamar saya untuk ambil sample darah saya.. Katanya di PMI tersedia 1 kantung darah.. Mereka harus segera ke PMI karena akan tutup jam 21.00. Alhamdulillah, akhirnya ada persediaan darah di PMI..

9 Juli 2015
Jam 02.00 (dinihari)
Transfusi darah kantung kedua dilaksanakan.. Sambil ngantuk-ngantuk dan banyak nyamuk, saya di transfusi.. Transfusi kedua ini sebanyak 287 cc.. Alhamdulillah udah hampir 500cc.. Transfusi darah selesai jam 05.00.. Dilanjutkan dengan CTG dan cek bukaan lagi.. Lagi-lagi saya menolak untuk cek bukaan..

Paginya, dr. YR visit ke kamar.. Sambil nahan malu, saya bilang kalo saya ga mau cek bukaan karena merasa ga mules.. Alhamdulillah nya dr Yusfa mengerti dan bilang “gpp ko ga cek bukaan. Soalnya dari hasil CTG, kontraksi nya menurun.. Biasanya kalo kontraksi menurun, bukaan ga nambah.. Ini mau dipercepat bukaan nya atau santai aja?”
Langsung donk saya jawab “santai aja dok” (saya langsung mikir.. kalo dipercepat, pasti di induksi.. dan saya ga mau diinduksi..)
dr. YR : “ya udah.. banyak jalan aja ya.. sama jongkok berdiri”

Sehabis mandi pagi, saya ditemani suami jalan keliling RS. Bolak-balik, bolak-balik.. Sampe bosen dan akhirnya minta pulang, nunggu bukaan di rumah.. 

Jalan-jalan di lorong Rumah Sakit

FYI ya.. saya minta pulang ini karena mendapatkan cerita dari beberapa teman yang mengatakan “anak pertama, bukaan 1 ke 10 bisa lama lho”.. Daripada bill RS nya  meningkat drastis.. Lebih baik nunggu di rumah aja lah ya..

Saya pun minta ke suster untuk memberikan informasi ke dr. Yusfa. Untungnya, dr. Yusfa mengizinkan saya untuk menunggu bukaan di rumah.. Namun, beliau pesan untuk segera kembali ke RS apabila :
  1. keluar darah
  2. janin tidak bergerak
Horeeee.. bisa pulang..

10 Juli 2015

Sahuuur... sahuuuur.. sahuuuur..
Ibu hamil gede ini ikut nemenin suami sahur.. Abis sahur, langsung jalan keliling komplek, sambil sesekali jongkok berdiri..
Abis solat subuh langsung bobo..
Berhubung pas di opname kemarin ga bisa bobo karena nyamuk dan harus dibangunin cek ini itu.. jadilah hari itu kita semua bangun siang banget.. Jam 10.30..

Pas melek mata.. pegang-pegang perut karena perasaan, baby nya ga gerak.. Sambil elus-elus, sambil anaknya diajak ngomong “dede.. ko ga gerak.. ayo donk gerak..”
Eeeeeh.. dari dalem sana ngerespon donk.. Alhamdulilah..
Laluuuuu.. kita beres-beres, males-malesan dan mainan HP.. Sampe akhirnya jam 11.30.. saya tidak merasakan gerakan si janin.. Dan saya pun ngomong ke mama saya..
VC : “ma.. ko ga gerak ya dd nya?”
Ma : “ya udah, cepetan kita ke Rumah Sakit. Menurut mama, ke RS terdekat aja dulu.. Ga usah ke YPK”
VC : “ga mau ah ma.. mau langsung ke YPK aja”
Ma : “Kalo macet gimana? Kalo terjadi sesuatu gimana?”
Daaaan.. insting seorang ibu ini berbicara “ke YPK saat orang solat jumat, pasti jalanan kosong. Kalo ke RS terdekat, pasti butuh waktu untuk observasi. Kalo harus tindakan, pasti akan lebih lama untuk urus administrasi dan observasinya.. Bismillah saya tetap mau langsung ke YPK”

Langsung mandi dan siap-siap dan langsung ngelarang suami solat jumat.. “Maaf ya sayang.. bukan maksud hati nyuruh kamu ke jalan tidak benar..Tapi ini urgent.. Allah juga tau ko”

SMS dr. Yusfa dan beliau langsung menyuruh saya ke YPK. Jam 12.15 kita jalan dari rumah sambil deg-deg an.. Sepanjang jalan setel ayat kursi.. Ajak ngobrol si dd.. Sampe akhirnya dr Yusfa SMS “Dimana? Ko belum sampe” (emang sih.. udah 1 jam dari saya sms beliau.. Rupanya dokter ini ikutan panik)..

Sampe RS jam 13.15.. Saya langsung ke pendaftaran.. Mana lama banget lagi bagian administrasinya.. Pas sampe depan pintu poli nya, saya langsung info ke susternya bahwa saya adalah Vicka.. Dan suster nya langsung meminta saya masuk.. *Maaf ya yang masih pada antri.. saya selak*

Sampe ruangan langsung di USG.. Lagi-lagi tampang dr. Yusfa serius.. *bikin panik ya dok*
dr. YR : “Alhamdulillah masih ada..” (lagi-lagi bikin deg-deg an kan statement nya)
dr. YR : “Saya sudah ga punya option, ini harus di operasi. Saya mau menyelamatkan ibu dan bayinya. Tadi pas jumatan saya kepikiran, takut kenapa-kenapa.. Saya tungguin ga dateng-dateng.. Siap ya Vick operasi sekarang. Soalnya bayinya harus lahir segera. Kalo bisa 30 menit udah diluar.. Paling lama 1 jam”

Saya makin panik donk digituin..
dr. YR : “suster.. siapin operasi ya.. SC cito” (belakangan saya tahu cito adalah istilah medis untuk sesuatu yang urgent / emergency)
“kemarin Hb nya 9,6. Tapi bismillah aja kita operasi ya. Tolong siapin darah lagi ya suster”

Langsung deh saya di giring ke ruang bersalin.. Sambil deg-degan.. Sambil berdoa.. Suasana di ruang Kala 1 pun mendadak riweuh.. pasang infus, tutup kepala, sementara suster lainnya menyiapkan ruang OK..
Sebelum SC, dokter Yusfa menghampiri saya “Siap ya Vick.. Bismillah aja.. Insya Allah semuanya lancar..”
Setelah berdoa dan pamit ama mama dan suami.. Akhirnya saya berjalan sendiri ke ruang OK bersama seorang bidan.. Kata suami saya seh.. saya masuk ruang bersalin jam 14.10..

Panik, deg-deg an, excited semua campur jadi satu.. dr. Anastesi (lupa namanya.. tapi baik bangeeeeeet), menjelaskan prosedur suntik anastesi untuk SC. Intinya, posisi kita membungkuk seperti udang, trus disuntik di ruas belakang (tapi lupa di ruas keberapa.. udah lupa karena kedinginan).. Dokter juga menjelaskan resiko terburuk dari anastesi ini, yaitu bisa terjadi kelumpuhan.. Tapi menurut dokter, itu jarang sekali terjadi..

Alhamdulillah suntiknya ga sakit sama sekali.. Abis disuntik, mulailah kaki saya kaku dan saya semakin kedinginan.. Ntah kedinginan karena ruang OK dingin, atau karena efek anastesi nya..
Ga lama kemudian, dokter yusfa masuk dengan kostum kumplit siap mengoperasi.. Belak belek sana sini (lumayan berasa perutnya bergerak-gerak), ga lama kemudian lahir deh dd bayik nya..

Tepat jam 14.29, tentunya di tanggal 10 Juli 2015.. Berat 3.494 gr.. Panjang 51 cm..


Alhamdulillah.. dd nya langsung nangis..
Di bersihin sebentar.. trus diplastikin dan diandukin.. dd nya dikasih liat ke saya..
“Assalamualaikum sayang.. ini mama.. Alhamdulillah udah lahir anak mama” Itu kata-kata pertama saya..

Sayangnya.. saya ga sempat IMD.. Cuma ditaro sebentar di dada, tapi dengan kondisi si baby langsung diarahkan ke puting.. Ya sudahlah yaaaa.. saya sendiri ga tega karena ruang operasi sangat dingin.. Saya aja kedinginan, apalagi dd bayi nya..

Ga lama kemudian, dd nya diliatin ke suami saya, sebelum dibersihkan di kamar bayi.. Lalu, suami saya mengadzani putri mungil kami..

Sementara saya dijahit dan dibersihkan, kemudian dibawa ke ruang pemulihan..
Di ruang pemulihan, keluarga saya satu persatu menghampiri saya..

Semua kepanikan sejak siang sirna sudah.. Yang ada lega..
“Terima kasih dokter yusfa.. Terima kasih bidan-bidan dan suster-suster YPK”

Sebelum keluar ruang OK, dr. Yusfa cuma bilang “Selamat ya Vick, bayi nya udah lahir.. Bayi nya besar..” Langsung beliau keluar ruang OK.

Belakangan saya tau, sebenarnya setelah jumatan itu, dr. Yusfa sudah ada perjanjian untuk SC pasien lain. Namun karena kondisi saya darurat, beliau mengoperasi saya terlebih dahulu..
Sujud syukur, alhamdulillah dan terima kasih banget sama Allah, saya sudah memilih Sp.OG yang tepat..

Foto atas : masa-masa observasi, sebelum melahirkan
Foto bawah : setelah melahirkan.. tetep disuruh jalan, supaya jaitannya ga kaku

Welcome to parenthood for us..

Love,
Vicka